JeratHukum News | PALEMBANG – Di saat oknum birokrasi sibuk berselancar di media sosial demi konten pencitraan, gerakan kolektif putra daerah asli Kabupaten Muara Enim justru memberikan pembuktian nyata. Tanpa tergantung fasilitas maupun karpet merah dari dinas terkait, sebanyak 19,8 ton Kopi Asli Semendo berhasil dimuat (stuffing) ke dalam kontainer ekspor dan siap bertolak menuju Malaysia.
Proses pemuatan komoditas emas hijau ini berlangsung di Pelabuhan Regional 2 Palembang, Selasa (21/7/2026) tepat pukul 13.30 WIB. Pengawalan di lapangan diwakili langsung oleh pegiat kontrol sosial YH Pratama bersama Robi Anugrah Putra (Founder WD Coffee and Roastery) yang bergerak bersama tim solid putra-putra daerah Muara Enim di balik layar. Di depan pintu kontainer raksasa yang berjejal karung-karung kopi kualitas dunia, terbentang spanduk penuh nada sentilan mendalam: "KAMI ADALAH PUTRA DAERAH YANG EKSPOR KOPI SEMENDE KELUAR NEGERI SECARA INDEPENDENT".
Muatan 19,8 ton biji kopi ini merupakan pure hasil bumi Semendo, Kabupaten Muara Enim. Sebelum dilarikan ke Pelabuhan Palembang untuk dikirim ke Malaysia, bahan mentah kopi tersebut harus menumpang diproses dan diolah terlebih dahulu di Pagar Alam melalui kerja kolaborasi putra daerah. Namun saat komoditas kebanggaan daerah ini siap berlayar ke kancah internasional, pendampingan dari instansi terkait di tanah kelahiran sendiri diduga justru minim di lapangan.
Pegiat kontrol sosial yang mengawal proses pemuatan di pelabuhan, YH Pratama, melayangkan pernyataan satir dan tajam atas fenomena ini.
"Pemerintah Kabupaten Muara Enim, khususnya dinas-dinas teknis, mestinya buka mata dan mengevaluasi diri melihat pemandangan hari ini di Pelabuhan Palembang. Pengiriman 19,8 ton Kopi Semendo ke Malaysia ini terwujud berkat gerakan swadaya dan kolaborasi solid putra-putra daerah Muara Enim bersama para petani lokal! Kopi ini pure dari tanah Semendo. Memang proses pengolahannya sempat dilakukan di Pagar Alam, tapi ini murni karya dan hasil bumi Muara Enim. Di mana peran aktif dinas saat proses panjang ini berjalan? Kita harapkan kontribusi nyata, bukan sekadar riuh pasca-kejadian!" ujar YH Pratama menohok.
Lebih lanjut, YH Pratama menceritakan potret dinamika di lapangan saat tim perwakilan putra daerah mengurus alur administratif pelabuhan.
"Tadi saat proses loading dan dokumentasi di pelabuhan, kita bahkan sempat tertahan dan ditanya-tanya oleh pihak keamanan soal izin fotonya. Ini jadi catatan menarik. Gerakan kolektif putra daerah Muara Enim ini membuktikan bahwa anak-anak muda lokal punya kapasitas menembus pasar internasional secara swadaya. Namun harusnya dinas terkait paham porsinya! Disbun fokus benahi hulu, pastikan petani dapat edukasi, pupuk, dan teknologi pascapanen agar kualitas kopi Semendo terjaga. Disperindag juga buka dan permudah akses hilir sampai ke jalur ekspor! Jangan sampai fungsi pendampingan publik kalah gesit dibanding gerakan independen masyarakat," tegas YH Pratama.
Peristiwa di Pelabuhan Regional 2 Palembang hari ini menjadi cermin besar bagi tata kelola komoditas lokal di Muara Enim. Publik melihat jelas bahwa harumnya nama Kopi Semendo di kancah internasional lahir dari cucuran keringat dan kerja bersama putra daerah Muara Enim secara swadaya.
"Melalui pengiriman 19,8 ton ke Malaysia hari ini, kolaborasi putra daerah Muara Enim membuktikan bahwa Kopi Semendo mampu menembus batas dunia. Kita berharap Pak Bupati segera menertibkan tata kelola di dinas-dinas teknis agar lebih responsif. Kopi Semendo butuh ekosistem kerja nyata dari hulu ke hilir yang dirasakan langsung oleh para petani!" pungkas YH Pratama menutup keterangannya.

Social Header