Kepala Dinas Perizinan Pasuruan Dinilai “Alergi Wartawan”, Transparansi Dipertanyakan
PASURUAN | Jerathukumnews.net
Sikap tertutup yang diduga ditunjukkan Kepala Dinas Perizinan menuai sorotan tajam dari kalangan media. Saikhu, Kepala Biro Jerat Hukum News, mengaku kesulitan untuk menemui pejabat tersebut meski sudah berupaya menjalin komunikasi secara baik.
Menurut Saikhu, upaya bertemu Kepala Dinas bukan untuk mencari sensasi ataupun membuat kegaduhan, melainkan sekadar bersilaturahmi sekaligus menanyakan berbagai program yang tengah disiapkan dinas untuk kepentingan masyarakat. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.
Akses komunikasi dinilai tertutup rapat, sehingga memunculkan kesan seolah-olah pejabat tersebut alergi terhadap wartawan.
“Kalau pejabat publik sulit ditemui, lalu masyarakat harus bertanya kepada siapa? Jangan sampai kantor pemerintahan berubah seperti benteng yang anti kritik dan anti informasi,” tegas Saikhu.
Sikap semacam ini dinilai mencederai semangat keterbukaan informasi publik. Seorang kepala dinas seharusnya hadir sebagai pelayan masyarakat, bukan figur yang sulit dijangkau. Terlebih, media memiliki peran penting sebagai jembatan informasi antara pemerintah dan rakyat.
Publik pun mempertanyakan, ada apa sebenarnya di balik sulitnya akses terhadap Kepala Dinas Perizinan tersebut? Jika memang tidak ada yang perlu ditutupi, semestinya tidak perlu bersikap menjaga jarak terhadap insan pers.
LSM GEMPAR turut angkat bicara dan mengecam keras sikap pejabat yang dinilai menutup diri dari kontrol sosial. Menurut perwakilan GEMPAR, jabatan bukan mahkota untuk bersembunyi dari rakyat, melainkan amanah yang wajib dipertanggungjawabkan di hadapan masyarakat.
“Pejabat yang anti wartawan patut dipertanyakan integritas dan komitmennya. Jangan sampai kursi jabatan hanya dijadikan simbol kekuasaan, sementara pelayanan publik dibiarkan lumpuh dan komunikasi dibungkam,” tegas perwakilan GEMPAR.
Mereka menilai, apabila seorang kepala dinas terus menghindari wartawan, maka hal itu bukan sekadar persoalan etika, tetapi tamparan keras bagi citra pemerintahan yang seharusnya terbuka, responsif, dan siap diawasi.
Masyarakat berharap Pemerintah Pasuruan segera mengevaluasi pola komunikasi pejabatnya. Sebab di era keterbukaan saat ini, pejabat yang anti media sama saja sedang menampar wajah demokrasi itu sendiri. Bila terus dibiarkan, bukan tidak mungkin kepercayaan publik runtuh, dan jabatan yang dipegang hanya akan dikenang sebagai simbol kesombongan birokrasi yang jauh dari rakyat.
((saikhu))








