![]() |
| DANA BOS NYARIS RP 1 MILIAR, HABIS DI PEMELIHARAAN???? |
Aroma kejanggalan dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SMP Negeri 4 Tambun Utara semakin menguat. Dengan total anggaran yang mendekati Rp 1 miliar per tahun, publik kini mempertanyakan ke mana sebenarnya aliran dana tersebut digunakan.
Hasil investigasi berbasis dokumen menunjukkan pola pengeluaran yang tidak wajar, inkonsistensi data, hingga indikasi lemahnya tata kelola administrasi sekolah.
Pemeliharaan “Raksasa”, Setiap Tahun Habiskan Ratusan Juta
Sorotan utama tertuju pada pos pemeliharaan sarana dan prasarana yang terus membengkak setiap tahun:
2025 Tahap 2: Rp 259.463.000
2025 Tahap 1: Rp 163.169.100
2024 Tahap 2: Rp 177.390.500
2023 Tahap 2: Rp 186.092.000
Jika ditotal, dalam 3 tahun terakhir, anggaran pemeliharaan mencapai lebih dari Rp 700 juta.
Pertanyaan besar:
Apa saja yang diperbaiki setiap tahun?
Mengapa biaya tidak pernah turun?
Apakah ada pekerjaan yang dilakukan berulang?
Seorang sumber internal menyebut, “Kalau tiap tahun besar terus, patut diduga ada pemborosan atau perencanaan yang tidak efektif.”
Lebih Besar dari Dana Masuk? Laporan 2025 Jadi Sorotan
Kejanggalan mencolok ditemukan pada laporan 2025 tahap 2:
Dana diterima: Rp 459.840.057
Total penggunaan: Rp 538.455.323
Artinya: pengeluaran melebihi pemasukan
Ini bukan sekadar selisih kecil, tapi mencapai puluhan juta rupiah.
Dugaan yang muncul:
Manipulasi laporan?
Penggabungan anggaran tanpa keterangan?
Atau kesalahan administrasi fatal?
Honor Anjlok Drastis, Ada Apa dengan Tenaga Honorer?
Data juga menunjukkan penurunan drastis anggaran honor:
2023: Rp 105 juta
2024: Rp 85 juta
2025: hanya Rp 12 juta
Penurunan tajam ini menimbulkan spekulasi:
Apakah tenaga honorer “dikurangi diam-diam”?
Atau pembayaran dialihkan ke pos lain?
🧾 Data Amburadul: Guru 45, Tapi Tercatat Hanya 8?
Masalah serius juga ditemukan dalam data tenaga pendidik:
Total guru: 45 orang
Rekap profesi: hanya 8 orang
Bahkan ada kategori “Null” sebanyak 12 orang
👉 Ini mengindikasikan:
Data tidak lengkap
Administrasi tidak tertib
Potensi pelaporan tidak valid
Sekolah Padat, Tapi Anggaran Tidak Berbanding Lurus
Dengan:
855 siswa
19 ruang kelas.
Rata-rata satu kelas diisi lebih dari 40 siswa.
Namun ironisnya, anggaran besar tidak sepenuhnya terlihat berbanding lurus dengan peningkatan fasilitas pembelajaran.
📡 Multimedia Nol Rupiah, Digitalisasi Mandek?
Di tengah tuntutan era digital, pengadaan alat multimedia justru nihil di 2025 tahap 2:
2024: Rp 49 juta
2025: Rp 0
Prioritas anggaran tidak tepat
Fokus lebih besar pada proyek fisik dibanding kualitas pembelajaran.
Tim investigasi akan menelusuri lebih dalam:
1. Proyek Pemeliharaan
Jenis pekerjaan setiap tahun
Vendor pelaksana
Bukti fisik di lapangan
2. Alur Dana BOS
Apakah ada pergeseran anggaran antar pos
Potensi mark-up atau pembengkakan biaya
3. Data Guru & Honor
Validitas data tenaga pendidik
Kesesuaian honor dengan jumlah guru
4. Perbandingan Sekolah Lain
Apakah pola ini juga terjadi di sekolah lain
Atau hanya kasus spesifik di SMPN 4 Tambun Utara.
Pengamat pendidikan mendesak:
Audit menyeluruh oleh instansi terkait
Keterbukaan laporan kepada publik
Evaluasi pengelolaan dana BOS
“Ini uang negara. Kalau tidak transparan, kepercayaan publik akan runtuh,” tegas seorang aktivis.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMP Negeri 4 Tambun Utara belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai temuan tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan dana pendidikan harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan siswa.
Red
