Sedekah Bumi Desa Primpen Bluluk, Tradisi Syukur yang Tetap Lestari - JERAT HUKUM NEWS

Sabtu, 16 Mei 2026

Sedekah Bumi Desa Primpen Bluluk, Tradisi Syukur yang Tetap Lestari

 


LAMONGAN | jerathukumnews.net

Desa Primpen kembali menggelar tradisi tahunan Sedekah Bumi pada Jumat (15/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di lapangan desa tersebut dipadati masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen sekaligus doa bersama demi keberkahan musim tanam berikutnya.

Sejak pagi hari, warga mulai berdatangan membawa berbagai hasil bumi seperti padi, jagung, pisang, umbi-umbian hingga hasil ternak. Seluruh hasil bumi disusun rapi di area punden Sendang Duwur yang selama ini dianggap sakral oleh masyarakat setempat.

Rangkaian acara diawali dengan kenduri dan doa bersama yang dipimpin para sesepuh desa. Dalam sambutannya, Kepala Desa Primpen Purwanto menyampaikan bahwa Sedekah Bumi bukan sekadar tradisi turun-temurun, melainkan bentuk pengingat agar masyarakat selalu menjaga alam dan menghargai hasil bumi.

“Sedekah Bumi ini bukan sekadar adat. Ini cara kami mengingatkan diri bahwa hasil yang kita nikmati berasal dari bumi dan harus kita jaga bersama,” ujarnya.

Usai doa bersama, warga menikmati pembagian tumpeng dan makanan kenduri secara bergotong royong. Suasana kebersamaan tampak begitu kental, mulai dari para pemuda yang membantu menata sesaji hingga para orang tua yang berbagi cerita mengenai tradisi Sedekah Bumi dari masa ke masa.

Memasuki malam hari, kemeriahan semakin terasa dengan hadirnya grup kesenian Tayub Margo Laras dari Desa Banjargondang. Dipimpin Ki Ratno dan dikoordinatori M. Hadisusilo, grup tersebut menampilkan sajian Langen Tayub yang memadukan gamelan tradisional dengan nuansa campursari modern.

Penampilan para waranggono seperti Nyi Retno, Nyi Dita, Nyi Septy dan Nyi Fiolen berhasil menghibur masyarakat dengan tembang Jawa hingga lagu koplo yang akrab di telinga warga. Ratusan penonton tampak antusias mengikuti suasana tayuban dan ikut menyawer sebagai bagian dari tradisi hiburan rakyat.

“Setahun sekali begini rasanya lega. Capeknya hilang kalau sudah dengar gamelan dan lihat tayuban,” kata Suyono, salah satu warga.

Bagi masyarakat Desa Primpen, Sedekah Bumi memiliki makna penting sebagai wujud syukur kepada Tuhan, penghormatan kepada leluhur, sekaligus perekat sosial antarwarga.

Kepala Desa Primpen Purwanto menegaskan seluruh kegiatan terlaksana berkat swadaya masyarakat dan kekompakan warga desa.

“Ini bukti kekompakan warga Primpen. Kalau guyub, semua bisa berjalan lancar,” ucapnya.

Di tengah perkembangan zaman dan modernisasi hiburan, tradisi Sedekah Bumi tetap menjadi ruang budaya yang hidup dan diwariskan kepada generasi muda. Acara ditutup sekitar pukul 23.30 WIB dengan doa bersama dan harapan agar hasil panen tahun depan semakin melimpah serta tradisi leluhur tetap lestari.

Maskabul

Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done